METODE PENDIDIKAN BARU DALAM BERDAPTASI REVOLUSI INDUSTRI 4.0

  • Admin41
  • Sabtu, 11/05/2019
  • Umum
  • 65 hits

Revolusi Industri 4.0 itu hanya istilah semata, yang sesungguhnya adalah tradisi berpikir manusia yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi yang pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa karena terciptanya peralatan-peralatan yang digunakan untuk memudahkan manusia melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit." -_Yusrin Ahmad Tosepu.

Berbagai upaya pemerintah dan perguruan tinggi kita dalam menyambut penetrasi Revolusi Industri 4.0, yang kedatangannya diharapkan tidak sekadar disambut oleh euforia yang melenakan, tetapi merangsang kesadaran bahwa kesiapaan bangsa ini untuk menceburkan diri pada arus revolusi tersebut harus disertai dengan 'pemberian bekal' yang mumpuni agar menghindarkan diri terseret arus globalisasi yang menenggelamkan.

Banyak analisa menyatakan bahwa keunggulan kompetitif (competitive adventage) sebuah bangsa di era Revolusi Industri 4.0 ini sesungguhnya mengejawantah pada kemampuan mengintegrasikan beragam sumber daya yang dimiliki agar memiliki konektivitas pada penguasaan teknologi, komunikasi, dan big data untuk menghasilkan 'smart product' dan 'smart services', dan tidak sekadar pada produktivitas kerja yang berskala besar semata.

Bayang-bayang industries shock dan empower shock semakin rentan menghantui kesiapan bangsa ini terhadap perubahan yang telah berjalan di hadapan mata. Perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia akan kehilangan pekerjaan dalam 10 sampai 20 tahun ke depan. Realitas tersebut juga selaras dengan proyeksi Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) belum lama ini. 

Indonesia tentu harus melakukan perubahan di berbagai bidang.  Salah satu perubahan itu bisa terbentuk dengan perbaikan sumber daya manusia. Tantangan Utama Revolusi Industri 4.0 adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang dapat mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan terhadap teknologi informasi.

Revolusi industri 4.0  bukan saja hasil puncak dari perkembangan sains modern, melainkan juga awal terciptanya alam (buatan) baru. Tradisi cara berpikir manusia kemudian berubah dari linier jadi siklikal karena produk-produk teknologi yang dihasilkan manusia tidak saja hanya dilihat sebagai "hilir" dari pengetahuan dan sains, tetapi juga sebagai "hulu" pengetahuan untuk melahirkan sains dan produk-produk teknologi baru. Pergeseran cara berpikir ini dapat kita kenali dari berubahnya cara berpikir yang semula disebut sebagai discovery menjadi innovation.

Sejak kelahirannya pada abad ke-17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi. Pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains, yang untuk selanjutnya sains akan berperan sebagai ibu kandung dari kelahiran teknologi. 

Kemudian disusul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipotesis yang dibangun oleh abstraksi sains.

Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber berpikir bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak di kemudian hari, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasi dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit. 

Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.

Cara berpikir "inovasi" telah meremas pengetahuan, sains, dan teknologi ke dalam satu genggaman tangan untuk kemudian dibentuk jadi bentukan-bentukan baru yang lebih mudah dipahami, lebih canggih, lebih mudah untuk memudahkan manusia, dan tentu saja lebih memesona. 

Namun, yang sangat mengejutkan, ternyata dalam waktu hanya sekitar 15 tahun terakhir ini cara berpikir manusia modern sudah bergeser dari "inovasi" menjadi "hiper-inovasi" atau tepatnya "hiper-siklikal". 

Artinya, inovasi tidak lagi sekadar dijalankan di atas "produk tunggal" untuk menambah nilai kebaruan dari produk tersebut, tetapi inovasi dilakukan di atas "banyak produk" (multiproduk) untuk dilipat jadi satu produk.

Alhasil, ia bukan saja melahirkan nilai kebaruan pada produk lama, melainkan sekaligus melahirkan produk-produk baru atau benda-benda baru yang sebelumnya belum pernah ada. Cara berpikir seperti ini kemudian melahirkan panggung-panggung perlagaan di dunia industri untuk saling bersaing dan saling mengalahkan. 

Kita banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan raksasa dunia terjungkal tanpa membuat kesalahan manajemen maupun produksi hanya karena munculnya benda-benda industri baru yang mengambil teritori pasarnya lantaran para pelanggannya dengan sukarela meninggalkan produk-produknya karena dianggap kuno alias tidak gaul lagi. 

Dalam payung berpikir seperti itu (hiper-inovatif), baik produsen maupun konsumen hidup dalam perlagaan-perlagaan yang sangat ketat, sibuk, dan cepat karena "kegaulan" produk-produk teknologi saat ini jadi berusia amat pendek.

Pada perkembangan selanjutnya, untuk melahirkan benda-benda baru serta jasa-jasa baru tersebut di atas dalam payung berpikir "hiper-inovasi", sesungguhnya kita telah mereduksi cara berpikir kita dari discovery ke innovation lalu ke asembling. 

Cara berpikir yang terakhir ini adalah cara berpikir yang menggunakan ilmu kolaborasi yaitu mengambungkan pengetahuan dan teknonologi.

Mengkolaborasi orang yang punya sepeda motor atau mobil dengan orang yang memerlukan jasa transportasi melalui IT. Mengkolaborasi orang yang perutnya lapar dengan pemilik produk makanan dengan pemilik sepeda motor yang mau disuruh dengan upah melalui IT.

 Dengan "ilmu kolaborasi", saat ini banyak orang bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja di kantor atau di pasar, dan juga banyak orang malas tetapi punya duit yang dimudahkan.

Saat ini, cara-cara berpikir dengan "ilmu kolaborasi" telah tumbuh dengan pesat dan subur serta telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari Perguruan tinggi. 

Cara berpikir seperti inilah barangkali salah satu yang dibaca dan ditangkap Google dan Ernst & Young untuk berani merekrut siapa pun tanpa ijazah apa pun untuk bekerja dengannya.

Atas dasar kondisi seperti itulah barangkali Jim Clifton merasa gelisah dan khawatir akan masa depan eksistensi Perguruan tinggi dalam perannya sebagai penyedia tenaga kerja industri. Keahlian ilmu seperti itu ternyata "tak pernah" dan "tak perlu" diajarkan Perguruan tinggi. Ilmu seperti itu dapat dipelajari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. 

Kekhawatiran Jim Clifton barangkali "sangat berguna" untuk mendefinisikan ulang peran pendidikan tinggi dalam perubahan-perubahan alam dan kehidupan manusia di masa depan.

Siapkah kita

"Siap memasuki" dan atau  "Siap menyambut revolusi industri.", itulah tema yang lagi viral di dunia pendidikan tinggi kekinian. Mulai dari orasi ilmiah para guru besar, topik bahasan seminar dan penelitian sampai sampai pada brosur kampus. Tema ini lari manis dikampanyekan. Benarkah pendidikan tinggi kita sudah siap menyambut revolusi industri? Bila melihat realita pendidikan tinggi kita (kurikulum, tenaga pengajar, sarana dan fasilitas pendidikan), masih jauh dari kata SIAP. Tapi apapun itu, tema tetaplah tema untuk sekedar penyemangat dan atau bahkan sekedar pencitraan semata. Walau bagaimanapun saya tetap mengapresiasi usaha dan kerja keras pemerintah dan perguruan tinggi memperisiapkan diri menghadapi era revolusi industri 4.0.

Pertanyaan yang mendasar adalah mampukah Pendidikan tinggi kita beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0? 

Jika dunia industri tengah dihadapkan pada tantangan era generasi keempat (4.0), maka berbeda halnya dengan pendidikan tinggi di Indonesia yang saat ini masih bergelut dengan ragam tantangan di era generasi ketiganya (3.0). Kondisi ini ditandai dengan tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran dan meninggalkan pola kebijakan lama yang sekadar berkutat pada masalah pemerataan akses serta pemenuhan sarana prasarana pendidikan.

Perubahan pola kebijakan yang berorientasi pada kualitas pembelajaran ini selaras dengan tuntutan tentang apa dan bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia sebagai media penyiapan sumber daya manusia yang siap terlibat dalam tantangan Revolusi Industri 4.0 tersebut. Pertanyaan yang pasti muncul adalah, "Siapkah kita memenuhi tuntutan sekaligus menghadapi tantangan revolusi industri 4.0?" Beberapa hal mengenai sampai di mana pendidikan kita dan persiapan apa yang diperlukan, saya coba urai satu persatu di bawah ini.

1. Kurikulum

Penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum yang telah ada menjadi fokus pertama dalam penyelesaian 'pekerjaan rumah' pemerintah dalam bidang pendidikan. Kebijakan Kurikulum  harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Ini yang kemudian disinggung pada awal tulisan, yaitu pengedepanan 'soft skills' dan 'transversal skills', keterampilan hidup, dan keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademis tertentu. Namun, hal itu bermanfaat luas pada banyak situasi pekerjaan layaknya kemampuan berpikir kritis dan inovatif, keterampilan interpersonal, warga negara yang berwawasan global, dan literasi terhadap media dan informasi yang ada.

Banyak kajian mengemukakan bahwa implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian (kompetensi keterampilan hidup), namun hanya berkisar pada target pencapaian kompetensi peserta didik yang digambarkan pada nilai-nilai akademik semata. Artinya, implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik tersebut pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian.

2. Metode Belajar

Menstimulus kemampuan peserta didik melalui beragam terobosan metode belajar kontekstual yang mendorong peserta didik berpikir kritis dalam beragam konteks hidup yang nanti dihadapinya, seperti problem-based learning, inquiry-based learning, pendekatan pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics (STEAM), dan ragam pendekatan pembelajaran lainnya. Sehingga tidak sekadar berfokus pada pola-pola lama dan monoton pada pembelajaran yang minim kreativitas.

Selama ini kita banyak beranggapan bahwa dosen adalah kunci keberhasilan sebuah praktik pembelajaran pada peserta didik, tetapi lupa untuk mengakui bahwa dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik. Pola dan metode pembelajaran lama sering kali menempatkan dosen menjadi satu-satunya sumber belajar dan 'maha tahu' di dalam ruang kelas, seolah melupakan bahwa peserta didik yang merupakan subjek belajar pun sesungguhnya merupakan sumber belajar bagi rekan sejawatnya.

Metode pembelajaran yang beragam dan membuka keleluasaan dosen dalam mengeksplorasi peserta didik dan pola pembelajaran yang dijalankan di kelas, diharapkan akan juga memperluas wawasan peserta didik tentang kontekstualisasi ilmu yang didapatkannya di dalam kelas menuju praktik hidup yang dihadapinya nanti sebagai bagian dari realitas kehidupan.

Membuka banyak kesempatan dan peluang kepada peserta didik, dosen, kampus, dan iklim pendidikan secara luas untuk mengembangkan cakupan sumber belajar yang dimilikinya, baik dari sumber yang sifatnya tangible maupun intangible, akademis ataupun non akademis, tanpa batasan aksesibilitas atas sumber belajar tersebut.  Dalam hal ini, perguruan tinggi melalui kebijakan-kebijakannya harus hadir dalam mengakomodir kebutuhan tersebut. Selama ini kita banyak beranggapan bahwa dosen adalah kunci keberhasilan sebuah praktik pembelajaran pada peserta didik, tetapi lupa untuk mengakui bahwa dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik.

3. Penguasaan Data, Informasi, dan Teknologi

Menstimulus dan memfasilitasi peserta didik serta masyarakat pendidikan untuk menguasai data dan informasi secara global, serta teknologi informasi yang dielaborasi dengan menciptakan ruang-ruang kreativitas dan ragam peluang yang memberikan keuntungan ekonomi yang sifatnya luas. Dalam hal ini, perguruan tinggi harus dapat mengakomodir infrastruktur digital yang dibutuhkan peserta didik dan masyarakat pendidikan untuk meniscayakan penguasaan data, informasi, serta teknologi tersebut.

4. Kapasitas yang Adaptif

Mendorong perkembangan pendidikan berbasis vokasional, dengan ragam keterampilan yang tidak sekadar mengedepankan konsep link and match antara perguruan tinggi dengan dunia industri, tetapi juga menekankan kapasitas lulusan yang lincah, adaptif, dan sensitif terhadap perubahan lingkungan industri dan ekonomi.

Keseimbangan pemahaman antara konsep pengetahuan dan keterampilan adalah hal yang penting, tetapi belum cukup bagi mahasiswa untuk dapat memahami cepatnya perubahan lingkungan. Survival of the fittest sepertinya akan berlaku di era generasi keempat ini. Hanya mereka yang adaptiflah, yang akan survive terhadap gempuran Revolusi Industri 4.0 ini. Survival of the fittest sepertinya akan berlaku di era generasi keempat ini. Hanya mereka yang adaptiflah, yang akan survive terhadap gempuran Revolusi Industri 4.0.

Membangun Metode Pendidikan Baru

Menghadapi revolusi industri 4.0 tentu bukan hal mudah, paling tidak, ada dua arus utama pendidikan tinggi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat, yaitu merekonstruksi ulang model pendidikan Perguruan tinggi agar tetap pada pada arahnya sebagai produsen sumber daya manusia yang unggul dan dibutuhkan masyarakat secara luas, dan membangun inovasi pembelajaran yang ada saat ini. 

Kuantitas bukan lagi menjadi indikator utama bagi suatu perguruan tinggi dalam mencapai kesuksesan, melainkan kualitas lulusannya. Perguruan Tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi. Dalam menciptakan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi.

Perguruan tinggi yang menyediakan infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan produktivitas industri dan melahirkan perusahaan pemula berbasis teknologi, seperti yang banyak bermunculan di Indonesia saat ini.

Tantangan berikutnya adalah rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi yang responsif terhadap revolusi industri juga diperlukan, seperti desain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital. Persiapan dalam menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 adalah salah satu cara yang dapat dilakukan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan daya saing terhadap kompetitor dan daya tarik bagi calon mahasiswa.

Perguruan tinggi Indonesia perlu merubah tiga hal dari sisi edukasi, yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir peserta didik.  Selanjutnya, kampus harus bisa mengasah dan mengembangkan bakat peserta didiknya. Terakhir, Perguruan tinggi seharusnya mampu mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman kiwari dengan fokus pada Konsep 'KKN' (komunikasi, kolaborasi, dan networking).

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perguruan tinggi harus bisa meramu metode pendidikan baru yang mampu menyesuaikan kebutuhan di era kekinian, yaitu :

Pertama, Pendidikan yang diselenggarakan atas dasar semangat discovery. Model pendidikan semacam ini mengorientasikan kegiatannya untuk dapat meraih "penemuan-penemuan" besar yang berguna bagi perubahan-perubahan kehidupan manusia di masa depan. Riset-risetnya dilakukan atas dasar "kerja kolektif" untuk diarahkan pada "penyelesaian masalah-masalah besar" dan "penemuan-penemuan besar" sehingga metode pendidikan yang diselenggarakan perguruan tinggi harus benar benar fokus bidang kajian prodi keilmuan yang diselenggarakan.

Kedua, pendidikan yang diselenggarakan atas semangat berpikir asembling, atau pendidikan yang diselenggarakan untuk melembagakan cara berpikir "perakit",  sehingga tugas utamanya melahirkan sebanyak-banyaknya tenaga ahli perakit yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri.

Pendidikan seperti ini mungkin mirip pendidikan vokasi, tetapi bedanya terletak pada "cara berpikir" yang luas, melintas disiplin, dan kompetensi yang dihasilkannya mampu melahirkan produk-produk baru, baik berupa barang maupun jasa. Mungkin pendidikan semacam ini tepat disebut "pendidikan vokasi plus". Dibeberapa negara Asia tampaknya telah memberi perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan semacam ini.

Ketiga, memanggil masuk para pelaku pasar dan dunia industri yang berhasil yang dikenal dengan istilah para praktisi atau penggiat dunia usaha dan industri. Jadikan mereka dosen, tanpa pernah memperdulikan title akademiknya. Mereka diminta menyampaikan secara gamblang apa yang mereka lakukan setiap saat sehingga peserta didik memiliki semangat dan motivasi untuk bisa seperti mereka. Kehadiran mereka akan dapat memeberikan perubahan dan membuat terobosan kehidupan, baik dari aspek sains, kedokteran, sastra atau humaniora.

Keempat, pendidikan yang diselenggarakan harus dikembangkan kajian bukan berbasis disiplin ilmu semata tetapi berbasis kebutuhan pasar. Titel akademik tidak lagi yang menentukan spesifikasi, tapi sertifikat ahli dari figur sentral dalam keilmuan yang ditekuni. Kuliah tidak perlu ditawarkan di ruang kelas, tapi di tempat praktek yang ditentukan oleh patron tadi. Datangkan 'futurelog' yang bisa memprediski revolusi kehidupan apa yang akan terjadi ke depan. Dunia pendidikan segera bergerak ke arah sana.

Dengan menyelenggarakan empat arus utama pendidikan tinggi semacam itu, selaian eksistensi pendidikan tinggi tetap dapat dipertahankan, maka pendidikan tinggi dikembalikan lagi perannya sebagai pemandu atau penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia kerja dan dunia industri.

Source : www.kompasiana.com


: tanpa label

Bagaimana pendapat Anda mengenai informasi yang disampaikan dalam website ini ?

Apabila ada yang ingin dikonsultasikan, silakan untuk menghubungi kami.